Buku Pemanfaatan Literasi Digital Dalam Pelestarian Warisan Budaya Tak Benda

Buku Pemanfaatan Literasi Digital Dalam Pelestarian Warisan Budaya Tak Benda
Buku Pemanfaatan Literasi Digital Dalam Pelestarian Warisan Budaya Tak Benda

Download Buku Pemanfaatan Literasi Digital Dalam Pelestarian Warisan Budaya Tak Benda

File Preview:



Download File:
  • Download Buku Pemanfaatan Literasi Digital Dalam Pelestarian Warisan Budaya Tak Benda.pdf


Buku Pemanfaatan Literasi Digital Dalam Pelestarian Warisan Budaya Tak Benda

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan upaya-upaya komunitas pelestari warisan budaya tak benda melalui media internet; (2) Menganalisis dampak-dampak yang dirasakan oleh komunitas pelestari warisan budaya tak benda melalui media internet; (3) Menganalisis tantangan untuk mendorong literasi digital dalam melestarikan warisan budaya tak benda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Sudah ada kesadaran di dalam komunitas pelestari warisan budaya tak benda untuk melakukan dokumentasi melalui media internet, saluran portal online, media sosial, aplikasi, dan pesan online; 2) Upaya pendokumentasian melalui media digital juga sudah masif dilakukan; 3) Masih ada tantangan yang harus ditangani para komunitas pelestari, yaitu perbedaan cara pandang tentang warisan tak benda terkait standar masing-masing warisan tak benda dan perbedaan generasi atau usia pelestari. Rekomendasi dari penelitian ini agar literasi digital semakin masif di kalangan pelestari warisan budaya tak benda yaitu: 1) Upaya yang lebih luas pada digitalisasi terutama pada pendidikan informal tentang media internet sehingga penggunaannya lebih optimal dan tepat sasaran, serta komunitas yang belum terakses dimudahkan untuk mengakses. Selain itu perlu upaya koordinasi dan kerja sama dalam meningkatkan literasi digital dan pelestarian warisan tak benda; 2) Lembaga-lembaga yang memiliki kelengkapan saluran pelestarian (institusi-institusi pendidikan formal SMK hingga perguruan tinggi) mengajarkan pembuatan, pementasan, dan kreativitas dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan (Puslitjakdikbud), Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2018 menerbitkan Buku Laporan Hasil Penelitian yang telah dilakukan pada tahun 2017. Penerbitan buku laporan hasil penelitian ini dimaksudkan untuk menyebarluaskan hasil penelitian kepada berbagai pihak yang berkepentingan dan sebagai salah satu upaya untuk memberikan manfaat yang lebih luas dan wujud akuntabilitas publik.

Hasil penelitian ini telah disajikan di berbagai kesempatan secara terbatas, sesuai dengan kebutuhannya. Buku ini sangat terbuka untuk mendapatkan masukan dan saran dari berbagai pihak. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi para pengambil kebijakan dan referensi bagi pemangku kepentingan lainnya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan kebudayaan.

Penelitian dengan fokus “Percepatan Akreditasi Sekolah Melalui Pembiayaan Mandiri” ini merupakan bagian dari tema besar tentang Isu Mutu Sekolah (Akreditasi, SNP) seperti yang tercantum di dalam Surat Keputusan Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0065/H2/KP/2017, tanggal 5 Januari 2017.

Perlunya percepatan akreditasi sekolah melalui pembiayaan mandiri sangat terkait dengan tema Hari Pendidikan Nasional Tahun 2017, yaitu “Percepat Pendidikan yang Merata dan Berkualitas”, yang berarti perlu upaya mempercepat terwujudnya sekolah yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) secara merata yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Namun demikian, hal tersebut masih jauh dari harapan, sebab akreditasi sekolah untuk mengetahui ketercapaiannya terhadap SNP belum dapat menjangkau seluruh sekolah yang ada.

Penelitian ini berupaya untuk membuat konsep percepatan akreditasi sekolah melalui pembiayaan mandiri yang disesuaikan dengan minat, tanggapan dan kesanggupan masyarakat sekolah. Oleh karena itu, konsep yang dihasilkan di dalam penelitian ini langsung dimintakan tanggapan kepada para stakeholder pendidikan terutama kepala sekolah.


BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Semenjak masuk ke abad 21, internet kini sudah menjelma menjadi kebutuhan pokok, termasuk bagi masyarakat Indonesia. Menurut survey yang dilakukan oleh Polling Indonesia dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016, diketahui bahwa 51, 8% atau sekitar 132,7 juta penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan internet. Jumlah ini meningkat pesat, pada tahun 2014 pengguna internet di Indonesia berkisar pada angka 88,1 juta jiwa (APJII dan Puskakom UI, 2014). Tren ini menunjukan pada tahun-tahun ke depan pengguna internet akan terus meningkat.

Hal ini tentunya menjadi tantangan dan juga sekaligus menjadi peluang bagi upaya pelestarian budaya tak benda di Indonesia. Sejak tahun 2007, melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2007, pemerintah Indonesia secara resmi meratifikasi Convention for The Safeguarding of The Intangible Cultural Heritage yang dibuat oleh UNESCO pada tahun 2003 di Paris. Dalam dokumen tersebut, sudah diamanahkan bahwa negara-negara yang meratifikasi konvensi ini harus melakukan rising awareness atau meningkatkan kesadaraan khususnya bagi kaum muda terhadap warisan budaya yang dimiliki oleh negaranya.

Sejak tahun 2009, UNESCO sudah mengkaji, bahwa Dunia Ketiga bukan lagi menjadi wilayah yang mengekspor budaya dari negara-negara maju. Kelompok Dunia Ketiga, termasuk Indonesia memiliki peluang untuk melalukan ekspor budaya ke dunia global (UNESCO, 2009). Lebih jauh, kebudayaan dan internet dapat dikawinkan menjadi potensi ekonomi suatu bangsa dengan konsep “ekonomi kreatif”. Pemerintah Indonesia, pada tahun 2011 meresponnya dengan membentuk nomenklatur baru dalam struktur kabinetnya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kini, ekonomi kreatif memiliki wadah yang lebih khusus, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang dibentuk pada awal tahun 2015. Seni pertunjukan, kuliner, seni rupa, dan juga kriya (handy craft), merupakan bagian dari produk-produk yang diorientasikan untuk masuk ke dalam dunia komersial.

Dalam upaya mendorong pelestarian budaya Indonesia melalui media internet. Google, perusahaan yang menaungi mesin pencari yang paling populer di dunia, sudah berupaya melakukan pelestarian budaya Indonesia (Koran Jakarta, 2016). Upaya tersebut dilakukan dengan meluncurkan platform online bernama Google Arts and Culture, yang menyediakan berbagai informasi terkait kebudayaan Indonesia. Tidak mau ketinggalan, Kemendikbud pada tahun 2017 meluncurkan gerakan literasi digital yang ditujukan untuk sekolah, keluarga dan masyarakat (Nasrullah dkk; 2017). Meskipun belum spesifik mendorong literasi digital untuk pelestarian warisan budaya tak benda, namun pemerintah sudah memberikan cetak biru untuk pentingnya masyarakat terlibat aktif dalam mendorong literasi digital.

Sejauh ini, belum ada kajian spesifik yang mengkaji mengenai literasi digital dan upaya pelestarian warisan budaya tak benda di Indonesia. Walaupun demikian, literasi digital sudah mulai banyak dijadikan tema dalam beberapa bidang. Kajian mengenai literasi digital lebih banyak dikaji pada ranah pendidikan, kepustakaan, dan psikologi anak dan remaja. Hal ini menandakan bahwa literasi digital merupakan ranah kajian yang sedang tumbuh mengingat semakin tingginya pengguna internet di Indonesia.

B. Perumusan dan Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini dirancang sebagai langkah awal untuk melihat sejauh mana komunitas- komunitas yang peduli dengan upaya pelestarian warisan budaya tak benda bersentuhan dengan literasi digital. Ada empat komunitas yang dikaji, komunitas pelestari wayang, keris, angklung, dan juga batik. Wayang, keris, batik, dan angklung merupakan warisan budaya tak benda yang diakui oleh dunia sebagai warisan budaya tak benda. Selain itu, ada pula tari Saman, tari Bali, Noken, dan juga Kapal Pinisi. Keempat komunitas tersebut dipilih karena terkonsentrasi di Pulau Jawa, yang menurut survey Polling Indonesia dan APJII (2016) pengguna internetnya paling banyak yaitu 65% dari seluruh pengguna di Indonesia.

Penelitian ini dipandu oleh beberapa pertanyaan berikut ini:
  1. Bagaimana upaya komunitas dalam melakukan pelestarian warisan budaya tak benda melaui media internet?
  2. Bagaimana dampak yang dirasakan setelah adanya upaya komunitas untuk melakukan pelestarian budaya melalui media internet?
  3. Bagaimanakah tantangan untuk mendorong literasi digital dalam melestarikan warisan budaya tak benda?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:
  1. Mendeskripsikan upaya-upaya komunitas pelestari warisan budaya tak benda melalui media internet.
  2. Menganalisis dampak-dampak yang dirasakan oleh komunitas pelestari warisan budaya tak benda melalui media internet.
  3. Menganalisis tantangan untuk mendorong literasi digital dalam melestarikan warisan budaya tak benda.

D. Signifikansi Penelitian

Penelitian ini diharapkan memiliki signifikansi teoritis dan praktis. Signifikansi teoritisnya, ialah bagaimana penelitian ini dapat memberikan sumbangsih dalam ranah akademik, khususnya mengenai literasi digital yang sejauh ini belum banyak dikaji terkait relasinya dengan pelestarian budaya. Kemudian secara praktis, kajian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan saran bagi pengembangan literasi digital bagi para penggiat pelestari warisan budaya tak benda, baik komunitas maupun pemerintah. Dengan demikian, akan semakin banyak pihak yang peduli untuk melalukan pelestarian budaya melalui literasi digital.

Belum ada Komentar untuk "Buku Pemanfaatan Literasi Digital Dalam Pelestarian Warisan Budaya Tak Benda"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel