Analisis Ketercukupan Pembiayaan Pendidikan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan)

Berikut ini berkas kajian kebijakan mengenai Analisis Ketercukupan Pembiayaan Pendidikan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Download file format PDF. Berkas ini merupakan salah satu Vocational Education Policy, White Paper yang diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan SMK - Dirjen Dikdasmen - Kemdikbud RI.

Analisis Ketercukupan Pembiayaan Pendidikan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan)
Analisis Ketercukupan Pembiayaan Pendidikan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan)

Analisis Ketercukupan Pembiayaan Pendidikan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan)

Munculnya Inpres No. 9 tahun 2016 menandakan adanya sebuah kondisi darurat dalam pendidikan menengah kejuruan (SMK) di Indonesia. Hal tersebut ditandai dengan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) SMK tertinggi dibandingkan dengan jenjang pendidikan lain. Sayangnya, munculnya Inpres tersebut tidak dibersamai dengan alokasi anggaran yang meningkat. Tahun 2017 justru terjadi penurunan 2,6T dan meningkat 1T ditahun 2018 serta menurun menjadi 4,3T tahun 2019. Belum lagi jika diproporsikan dalam struktur anggaran Pembinaan SMK dimana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) mencapai 50% dari total alokasi. Hal tersebut dinilai belum mampu mengakomodir kebutuhan pembiayaan pendidikan SMK ditengah tuntutan untuk menyelesaikan permasalah di dalamnya. Kebijakan Dana Transfer Khusus pun dirasa belum mampu menjawab tantangan tersebut. Alokasi DAK Non Fisik (BOS) yang pada tahun 2019 meningkat 200.000 menjadi Rp. 1.600.000,- per siswa pun masih dinilai kurang untuk membantu operasionalisasi sekolah. Terlebih masih banyak sekolah yang dalam operasionalisasinya masih tergantung pada dana BOS sebagai satu-satunya sumber pembiayaan sekolah. Belum lagi politik ‘sekolah gratis’ di berbagai daerah yang menutup kemungkinan sumbangan dari masyarakat untuk pendidikan. Oleh karena itu perlu adanya kebijakan alternatif untuk keluar dari permasalahan pembiayaan pendidikan tersebut. Melalui kajian inilah ikhtiar untuk memunculkan kebijakan alternatif itu diinisiasi. Rekomendasi terpenting seperti perlu diinisiasi kebijakan pengelolaan keuangan sekolah secara mandiri dengan pola BLUD dan secara bersamaan dimasifkannya teaching factory sebagai Income Generating Unit di sekolah. Kajian ini menggunakan metode analisa kualitatif-deskriptif dengan melakukan interpretasi terhadap data yang sudah ada untuk kemudian dilakukan analisa kualitatif dengan menghubungkan antar setiap permasalahan agar bisa disajikan data dan rekomendasi yang bermakna.

Tujuan dari  kajian  kebijakan  ini adalah untuk menguraikan permasalahan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia terkait dengan pembiayaan pendidikan  dan menemukan titik kulminasi  berupa solusi  untuk mengatasi  hal tersebut.

Manfaat dari kajian ilmiah kebijakan ini adalah ditemukannya akar permasalahan pembiayaan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan untuk kemudian dilakukan perencanaan pembuatan kebijakan strategis untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Selengkapnya mengenai isi dan susunan berkas paper Analisis Ketercukupan Pembiayaan Pendidikan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) ini, silahkan lihat dan download pada link di bawah ini.

Download File:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel